
Riset yang lahir dari laboratorium kampus kembali membuktikan dampaknya bagi dunia medis nasional, dan kali ini pembuktian itu datang dari Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada yang resmi ditetapkan sebagai penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXII 2026 untuk bidang Kesehatan.
Penghargaan yang diinisiasi Keluarga Besar Bakrie bersama Freedom Institute ini merupakan bentuk apresiasi masyarakat kepada tokoh-tokoh Indonesia yang menunjukkan keperintisan, kepeloporan, dan pengabdian di bidang pemikiran, kreasi, penelitian, maupun inovasi IPTEK. Dalam rumusan yang disusun Dewan Juri Independen, Prof. Ika dinilai sebagai pelopor rekayasa jaringan dan biokeramik medis di Indonesia yakni sebuah penilaian yang menegaskan bahwa karyanya tidak berhenti sebagai teori akademis, melainkan menjawab langsung tantangan kemandirian alat kesehatan di tanah air.
Tonggak pencapaian itu berwujud Gama-CHA, produk bone graft atau pengganti tulang berbasis karbonat apatit pertama buatan dalam negeri. Berbeda dari bahan berbasis hidroksiapatit yang selama ini banyak digunakan dan cenderung bertahan lama di dalam tubuh, karbonat apatit memiliki komposisi yang lebih menyerupai mineral tulang manusia sehingga dapat diserap secara bertahap seiring terbentuknya jaringan tulang baru. Dengan karakter tersebut, Gama-CHA menjadi solusi mandiri bagi pemulihan struktur tulang yang rusak tanpa harus melalui prosedur cangkok yang kompleks dan berisiko bagi pasien.
Perjalanan menuju hilirisasi produk ini tidak berlangsung singkat. Riset yang dirintis Prof. Ika sejak awal tahun 2000-an tersebut menempuh jalan panjang dari uji laboratorium, uji praklinis, hingga akhirnya mengantongi izin edar resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan diproduksi secara massal. Capaian tersebut menempatkan Gama-CHA sebagai salah satu contoh keberhasilan hilirisasi riset perguruan tinggi yang benar-benar sampai ke tangan pengguna di fasilitas layanan kesehatan.
Atas kontribusi tersebut, Prof. Ika Dewi Ana bersama tiga penerima lain dari bidang Sains dan Teknologi, Pemikiran Sosial, serta Seni dan Budaya menerima penghargaan yang diserahkan dalam Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie XXII pada 26 Agustus 2026 lalu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Lebih dari sekadar pengakuan atas prestasi individu, keberhasilan ini memperlihatkan bagaimana riset ilmiah yang dikembangkan di lingkungan UGM mampu keluar dari ruang akademis, meretas ketergantungan pada produk impor, dan memberi manfaat langsung bagi kualitas hidup masyarakat Indonesia.