UGM bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar rapat koordinasi persiapan Focus Group Discussion (FGD) tentang pengelolaan biodiversitas pada Sabtu, 31 Januari 2026 bertempat di Ruang Multimedia 1 Gedung Pusat UGM. Rapat koordinasi ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan konsep, fokus isu, serta peran lintas unit dan lembaga dalam merumuskan agenda nasional pengelolaan biodiversitas, khususnya terkait penyelenggaraan riset biodiversitas yang berkelanjutan dan berdampak.

Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K), Ph.D., dalam sambutannya menegaskan pentinganya keberpihakan perguruan tinggi dan lembaga pemerintah dalam membangun ekosistem riset nasional yang sehat. Ia menyampaikan bahwa Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan untuk menjadi negara yang unggul dalam riset dan inovasi, mulai dari apresiasi terhadap periset, fleksibilitas dalam pelaksanaan riset, hingga ketersediaan fasilitas pendukung. Menurutnya, diperlukan perbaikan kolaborasi antarlembaga pendidikan tiggi dan pemerintah agar tidak semata riset dan inovasi berorientasi pada kompetisi. Standarisasi klirens riset di tingkat nasional juga dinilai penting untuk memberikan kepastian bagi peneliti. UGM, lanjutnya, mengusulkan sejumlah kebijakan strategis yang diharapkan dapat ditindaklanjuti secara positif oleh BRIN, khususnya dalam menciptakan iklim riset yang kondusif dan berkelanjutan.
Wakil Kepala BRIN Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa predikat Indonesia sebagai negara megabiodiversitas harus diiringi dengan perlindungan hukum yang kuat. Kekayaan hayati, menurutnya, tidak hanya cukup dicatat dari sisi kuantitas spesies, tetapi harus dikelola sebagai aset bangsa yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Perlindungan kekayaan intelektual menjadi instrumen yang penting agar hasil inovasi berbasis keberlanjutan dapat kembali kepada masyarakat dan negara.
Prof. Amarulla juga menyinggung pentingnya inventarisasi sumber daya hayati serta penguatan isu kemaritiman dan geopolitik dalam pengelolaan biodiversitas. Diskusi dalam FGD nantinya diharapkan bersifat praktis dan berorientasi pada realisasi, bukan sekadar konseptual. BRIN juga memperkenalkan pengembangan Research Control Center (RCC) yang ke depan akan diperluas pemanfaatannya, tidak hanya bagi peneliti di BRIN tetapi juga bagi perguruan tinggi di Indonesia.
Dewan Pengarah BRIN Dr. Bambang Kesowo, S.H., LL.M., menekankan bahwa kekayaan hayati Indonesia yang kerap disebut besar dan luas perlu diterjemahkan ke dalam data serta angka yang konkret agar dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan strategis. Selama ini, diskusi mengenai biodiversitas masih banyak bersifat kualitatif, padahal pembuat kebijakan membutuhkan gambaran kuantitatif yang jelas, mulai dari potensi wilayah, skala pemanfaatan, hingga nilai strategisnya. Ia menegaskan bahwa fokus diskusi perlu diarahkan pada isu yang tajam dan terukur, sehingga hasil FGD nasional dapat dirumuskan dalam bentuk policy brief yang relevan dan menjadi bahan pertimbangan bagi Presiden.
Dalam sesi diskusi yang dipandu langsung oleh Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. memantik diskusi dengan menyampaikan banyak hal yang telah dilakukan dan dimiliki UGM terkait pengelolaan dan pelestarian sumber daya hayati. para dekan fakultas/sekolah, para direktur dan kepala pusat inovasi di UGM turut hadir dan berpartisipasi aktif dalam menyampaikan gagasan dan masukan. Para dekan menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pengelolaan biodiversitas, mencakup aspek biologi, pertanian, kehutanan, sosial budaya, pangan, peternakan, hingga pemetaan spasial. Berbagai pandangan dari disiplin ilmu yang beragam memperkaya perumusan topik FGD nasional agar mampu menghasilkan rekomendasi yang tajam, terukur, dan aplikatif. Pada akhir acara, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc menyimpulkan perlunya percepatan implementasi Rencana Induk Nasional terkait biodiversitas, pengembangan infrastruktur riset untuk mendukung implementasi rencana induk, pengembangan sumber daya talenta penelitian agar kapasitas riset semakin kuat, penguatan tata kelola penelitian dan pemanfaatan big data untuk pengelolaan biodiversitas yang efektif dan diferensiasi pendekatan kewilayahan, memperhatikan konteks landscape, budaya, dan etika penelitian.